KLIK DISINIMari Baca Berita Politik Nasional Indonesia Terbaru !

Agar Bisnis Tetap Relevan “JACK MA”

Bisnis Tetap Relevan

Majalah24.com – Pagi hari ini (1/9/2018), CEO Alibababa Grup berjumpa dengan Presiden Joko Widodo di Istana Bogor. Kedatangan pelaku bisnis asal China yang begitu popular karena usaha ecommerce ini diterima hangat oleh Jokowi.

Jack Ma ada di Indonesia dalam rangka Asian Games, serta sudah sempat melihat laga final sepakbola putri yang menghadapkan team asal negaranya, China dengan Jepang. Pria ceking yang sekarang adalah orang paling kaya ke-20 didunia itu gagasannya akan ada dalam upacara penutupan Asian Games di Stadiun Utama GBK, Minggu (2/9/2018).

Siapa sebetulnya Jack Ma, sampai memberikan inspirasi demikian beberapa orang? Tuturnya, pada suatu ketika, saat orang belum menjadi siapa-siapa apapun yang dikatakannya akan berlalu seperti kentut, tetapi jika telah sukses, bahkan juga kentutpun bisa menjadi inspirasi. Berikut ini merupakan nukilan kisah mengenai Jack Ma, dan bagaimana supaya bisnis tetap relevan.

***

Dalam dua kesempatan di waktu dan tempat yang berbeda, Menteri ESDM Ignasius Jonan menyisipkan video pidato Jack Ma, Pendiri Alibaba Group—salah satu perusahaan e-commerce paling besar didunia asal China—dalam materi presentasinya.

Ini ialah kutipan pidato dalam acara Gateway 17, yang diselenggarakan di Detroit, Amerika Serikat, pertengahan 2017.

Saya melihat video itu diputar waktu Jonan bicara di muka beberapa ekspatriat minyak asal Indonesia yang bekerja di Texas, dalam satu pertemuan di Konsulat Jenderal Republik Indonesia Houston pada penghujung Juli 2017. Pemutaran ke-2, satu bulan lalu, berlangsung dalam focus grup discussion masalah mobil listrik yang di hadiri semua pemangku kepentingan, di Nusa Dua Bali.

Gateway 17 adalah kisah tentang tentang Jack Ma bersama 16 rekannya membawa Alibaba besar seperti saat ini. Cerita bagaimana pria langsing tersebut melakukan yang tidak mungkin, bagaimana menghadapi kegagalan—dia pernah menjadi satu-satunya kandidat yang gagal menjadi pelayan restoran cepat saji KFC dari 24 orang pendaftar—serta menjadikan Alibaba sebagai perusahaan paling dibicarakan dan juga dikagumi.

Jack Ma sempat juga 10 kali ditolak waktu mendaftar di Harvard University, lantas berbagi kiatnya. Diantaranya rahasia sukses Alibaba lewat cara merekrut lebih banyak karyawan wanita. Wanita, menurut dia, lebih perduli dengan orang yang lain dibanding dengan pria. “Pria, memikirkan dirinya sendiri.”

Pada Era 21, wanita semakin lebih berkuasa karena pada era awal mulanya orang diukur dari kemampuan otot. Era saat ini, orang diperbandingkan karena wisdom. “Rekrut wanita sebanyak mungkin adalah yang kami lakukan,” papar Jack Ma, yang beberapa minggu lalu, melalui Alibaba, menginjeksi modal Rp14 triliun ke perusahaan e-commerce Indonesia, Tokopedia.

Selanjutnya, Jack Ma memberi nasehat untuk anak muda. “Jika Anda 20 tahunan, mencari perusahaan bagus serta dapatkan bos hebat untuk belajar menggerakkan usaha. Bila Anda 30, coba bekerja untuk diri pribadi. Saat 40, lakukan suatu yang Anda pakar. Bila Anda 50, silakan beri peluang pada anak muda. Bila Anda 60, lebih baik memakan waktu dengan cucu.”

Dua strategi yang dikatakan Jack Ma, menyiratkan pesan kuat tentang dunia yang berubah. Pendulum bisnis juga berubah. Itu kenapa Jonan terlihat demikian senang dengan pesan ini. Menurut dia, organisasi mana saja mesti responsif pada pergantian lingkungan serta jaman.

Ujungnya, kepada para seratusan ekspatriat Indonesia di AS yang hadir dalam pertemuan itu, Jonan menyampaikan jika usaha perminyakan juga sudah beralih mengarah pengelolaan sumber alam yang efektif. Jenis usaha minyak, dengan begitu juga berlainan serta perlu selalu diperbarui.

Ditambah lagi, dengan harga komoditas yang terjun bebas dari posisi tertingginya pada 2013. Tidak bisa dipungkiri lagi inovasi disruptif, sudah melanda sektor yang pernah beberapa dekade ada dalam zone nyaman; para insinyurnya mendapatkan layanan kelas satu serta gaji selangit.

Di depan beberapa pemangku kebutuhan industri otomotif, Jonan juga membawa pesan serupa; tehnologi mobil listrik adalah sebuah keniscayaan. Oleh karena itu, Indonesia tidak dapat menunggu lagi, tidak hanya siap-siap mengadopsi tehnologi dengan semua cara; merubah spesifikasi pabrikan otomotif, mengimpor mobil utuh, bahkan juga melarang penjualan kendaraan berbahan bakar minyak pada 2040.

Jika hal tersebut berlangsung, jelas terjadi disrupsi pada industri otomotif Indonesia. Diatas kertas, akan terjadi efisiensi penggunaan bahan bakar fosil, karena mobil listrik tidak bergantung pada salah satu sumber energi. Pertanyaannya, apa para pelaku industri telah siap?

Listrik bisa bersumber dari batu bara, tenaga air, angin, cahaya matahari, biomassa dan sebagainya. Sedikit sekali saat ini pembangkit di Indonesia yang masih tetap memakai bahan bakar solar.

 

Oleh karena itu, jika masyarakat Indonesia bergeser pada mobil listrik, maka jelas impor minyak mentah 800.000 barel perhari akan berkurang drastis. Dengan harga sekarang, taruhlah US$50 per barel, maka per hari perlu devisa US$40 juta, atau US$14,6 miliar setahun, yang bila dirupiahkan Rp192 triliun!

Perlu dicatat, konsumsi harian bahan bakar minyak di Indonesia adalah 1,6 juta barel, separuhnya bisa diproduksi di dalam negeri. Impor yang berkurang, berarti penggunaan devisa bisa dihemat dan rupiah punya kans lebih besar untuk menguat.

Sebagai sebuah wacana perubahan, tentu saja perhitungan di atas akan diuji oleh sejarah. Namun, penjelasan sangat masuk akal karena toh sumber minyak akan kering. Indonesia tidak sendiri dalam mengantisipasi perubahan ini, seperti yang dilakukan oleh Norwegia, Inggris, Amerika Serikat, Jerman, bahkan India.

Singkat kata, relevansi bisnis kendaraan berbahan bakar minyak akan terus berkurang dalam 10-20 tahun mendatang. Mobilitas orang bisa jadi juga menyusut karena dengan teknologi orang bisa bekerja di mana pun. Tatap muka tentu masih penting, tetapi seperlunya saja.

***

Beberapa pekan terakhir, saya bertemu dengan sejumlah bankir kawakan. Saya sebut kawakan karena rata-rata mereka telah berkarir di industri keuangan ini lebih dari seperempat abad. Anehnya, semua menyimpan kekhawatiran, apakah bisnis bank kelak masih relevan di tengah arus besar ekonomi digital yang melanda dunia.

Anika Faisal, Direktur PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk. (BTPN) adalah salah satunya. Baginya, ekonomi digital, telah mengubah dengan cepat lansekap industri perbankan, yang saat ini masih menguasai 70% aset di sistem keuangan Indonesia. “Apakah kehadiran cabang bank masih diperlukan saat sebagian besar transaksi telah bisa dilakukan secara digital?” tanya Anika.

Pertanyaan ini sebenarnya retoris, karena lembaga keuangan seperti BTPN telah mengantisipasi dengan mengembangkan digital banking, lebih dari yang bank-bank lain lakukan. Mereka memiliki BTPN WOW!, sebuah upaya memperluas pasar di akar rumput dengan menjadikan nomor telepon genggam sebagai rekening.

Dengan produk bernama Genius, bank ini juga bisa melayani pembukaan rekening melalui aplikasi ponsel, dan hanya memerlukan sekali verifikasi dari stafnya dengan cara mendatangi nasabah. BTPN, yang dulunya adalah bank pensiunan dengan nasabah menua, rela merogoh investasi hampir Rp1 triliun untuk pengembangan teknologi.

Bahkan, BTPN menyulap salah satu lantai di kantor pusat kawasan Mega Kuningan Jakarta Selatan, sebagai ajang inovasi pengembangan fintech yang dikemas layaknya kantor perusahaan rintisan, dengan karyawan generasi millennials. Mereka seperti sedang mengosongkan gelas, lalu membiarkan terisi hal-hal baru dari anak-anak muda yang direkrutnya.

Namun, dari yang saya tangkap, BTPN terlihat memiliki strategi yang belum selesai, termasuk dalam mempercepat perubahan dengan melibatkan seluruh karyawan.

Di bank lain, seperti PT CIMB Niaga Tbk, (BNGA) malah lebih dulu mengambil langkah taktis, mereduksi 1.200 orang karyawan—sekitar 10% dari total pekerja—seiring dengan makin berkurangnya transaksi perbankan melalui cabang.

Saat berkunjung ke kantor Bisnis Indoneia, bulan lalu, Presiden Direktur Bank CIMB Niaga Tigor Siahaan menyebut, 93% transaksi perbankan harian bank dikelolanya melalui digital.

Adapun, Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) Jahja Setiaatmadja, 97% dari 18 juta transaksi harian BCA kini dilakukan secara digital, kendati 3% sisanya masih mendominasi volume transaksi hingga 56%.

Tantangan bank juga tidak berhenti pada cara bertransaksi. Namun, juga dengan tuntutan layanan yang jauh lebih efisien. Sebutlah dalam hal pencairan kredit yang memakan waktu. Pesaing bank bukan lagi perusahaan rintisan yang menciptakan ekosistem keuangan baru, murah dan cepat, tetapi juga perusahaan lain, misalnya industri telekomunikasi.

Melalui layanan uang elektronik, perusahaan telekomunikasi seperti PT Indosat Tbk. dan PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) bisa menghimpun dana triliunan rupiah. GoJek—perusahaan transportasi online yang telah memiliki 30 juta pelanggan—mengembangkan Go Pay sebagai alat pembayaran baru berbagai transaksi dan separuh pelanggan telah rela menaruh sejumlah uang di layanan pembayaran virtual itu.

Sebagaimana perusahaan minyak, bank kini juga memerlukan renovasi model bisnis agar tetap relevan. Bahkan, kalau mau jujur, semua industri kini punya tantangan yang sama dalam menghadapi peralihan ekonomi digital saat ini.

Ujungnya, ilmu manajemen mungkin harus dibongkar pasang, karena apa yang kita pelajari dan kembangkan tahun lalu, belum tentu relevan saat ini. Korporasi selayaknya terus mencari model bisnis baru, agar tak cepat lekang dimakan perubahan

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *