KLIK DISINIMari Baca Berita Politik Nasional Indonesia Terbaru !

Akhir Perjalanan dari Terduga Teroris Mas Ganteng di Tangan Densus 88

Majalah24.com – Wiwin, warga Jalan Gempol Raya, RT 4 RW 2, Kunciran, Pinang, Tangerang, tak menyangka sosok Muhammad Choir (MC) yang selama ini dikenal ramah dan sopan ternyata menjadi orang yang paling dicari oleh Densus 88 pasca-rangkaian aksi teror yang terjadi di Jawa timur dan Riau beberapa hari lalu.

Baca Juga : Payudara Kendur di Usia Muda, Apa Sebabnya?

Menurut Wiwin, sosok Choir jauh dari kesan seram, seperti terduga pelaku teroris yang sempat ia lihat di media massa. Choir menurut dia berwajah tampan dan berkepribadian ramah. Dia pun oleh para ibu-ibu di sekitar, sering disapa ‘Mas Ganteng’.

“Iya itu suka dipanggil ‘Mas Ganteng’, putih gitu, punya berewok juga. Kayak Rido Rhoma,” kata Wiwin.

Menurut dia, saat keluar untuk jajan, Choir sering menyapa warga dan tak sombong. Oleh karena itu, dia tak menyangka bila Choir diduga terlibat kelompok teroris Tangerang. Tempat konveksinya juga menjadi langganan ibu-ibu.

“Dia sih ramah gitu suka negor duluan ‘Ke mana Buk?’ gitu. Enggak sombong. Ya dia juga memang cakep orangnya putih gitu ada berewoknya,” Wiwin.

“Ramah, baik enggak mencurigakan, makanya kita bingung gitu, kan kalau orang-orang begitu (teroris) pasti suka ada tamu tamunya (bapak-bapak), nah ini mah enggak, malah ibu-ibu sini semua yang datang pada vermak,” tambah Wiwin.

Menurut dia, Choir sudah setahun menetap di daerah Gempol. Mulanya jadi tukang jahit konveksi. Dia pun awalnya kerap berpenampilan kasual. Namun belakangan, Choir selalu memakai gamis.

“Kalau dia suka pakai levis dan kaos. tapi semakin kemari ya pakai gamis gitu,” tukas Wiwin.

Dia menambahkan, Choir punya satu anak buah yang menjahit bersamanya. Ruko konveksi Choir juga bersebelahan dengan tempat kerja Wiwin.

Wiwin juga sering mendengar suara lantunan orang mengaji dari ruko tersebut.

“Saya kan pergi kalau kerja di situ setengah 6 ada yang ngaji, terus anak buahnya tidur di situ. Enggak mungkin gelap-gelap dia udah dateng. Itu kekonci berarti anak buahnya tidur di situ. Pokoknya kalau saya dateng ke tempat kerja saya, ada orang ngaji,” kata Wiwin.

Berubah Usai Menikah

Namun demikian, kepribadian Choir berubah menjadi tertutup sejak menikah dengan istrinya yang menggunakan cadar.

“Makanya pas kemarin enggak nyangga gitu cuma kita nyangkanya istrinya itu pakai cadar gitu tapikan dia sama istrinya belum lama. Kita jarang ngelihat istrinya. Itu juga tempat vermaknya seringan tutup,” kata Wiwin di lokasi, Kamis (17/5/2018).

Dia menambahkan, saat masih bujang ruko konvensi Choir sering buka. Wiwin juga kaget tiba-tiba Choir sudah menikah.

“Kalau dulu waktu dia belum nikah itu tempatnya sering buka terus. Enggak ngerti juga, tahu-tahu udah ada istrinya gitu,” tutur dia.

Istri Choir juga tak pernah berbaur dengan warga dan berkepribadian tertutup. Beda dengan Choir yang langganan menyapa warga. Wiwin curiga apakah karena istrinya, Choir jadi berubah sikap, padahal mereka baru menikah sekitar 3 bulanan.

“Kita enggak nyangkanya gitu. Bingungnya apa istrinya atau suaminya karena kan waktu sebelum sama istrinya kan dia berbaur, suka tuh suka ngobrol-ngobrol, tapi pas selama ada istrinya jadi jarang dan sering tutup usaha vermaknya,” tutur dia.

Kemudian, ketika menikah, Choir juga mulai mengenakan gamis. Wiwin menambahkan, dulu Choir sempat punya pacar, tetapi kandas karena Choir ingin memiliki istri yang mengenakan cadar.

“Selama dia punya istri gitu ya suka pakai yang panjang-panjang itu. Choir itu kan orang Padang kan dia, enggak tau itu ketemu di mana tau taunya itu udah punya istri aja,” tandasnya.

Lebih lanjut, Choir juga sering salat di rumah kakaknya yang berada di Perumahan Duta Bintaro Ubud 2, Tangerang. Sekitar satu kilometer dari ruko konveksi Choir.

“Dia kalau salat sukanya ke Duta. Kan rumah kakaknya di Duta, enggak tau ke sana salat ke masjid atau ke mana, kan itu rumah kakaknya gitu” ujar Wiwin.

Tak Pernah Lapor RT

Di balik sosok ramah dan baik terhadap warga, Choir diketahui belum pernah lapor ke Ketua RT terkait keberadaan dirinya.

Enggak pernah lapor sampai sekarang. Sudah pernah saya tegur beberapa kali, cuma iya nanti-nanti aja,” ucap Ketua RT 04 Nalim saat berbincang dengan Liputan6.com di lokasi, Tangerang, Kamis (17/5/2018).

Nalim juga tidak tahu persis dari mana Choir berasal. Bahkan kontrakan tempat tinggalnya pun ia tak tahu. Yang pasti, dia bukan warga asli Tangerang. “Ngakunya ke warga sih orang seberang, daerah Sumatera,” katanya.

Eko, warga setempat, tidak pernah menaruh curiga kepada Choir. Meski, ia tidak terlalu mengenalnya. Sebab, tidak pernah tampak gelagat mencurigakan dari Choir.

“Orangnya baik, ya bermasyarakat juga, cuma memang pendiam. Saya pas bikin celana di sana juga dia jahit-jahit aja, enggak banyak omong,” ucap Eko.

Choir juga tidak pernah bermasalah dengan warga sekitarnya. Bahkan dia sering membelikan jajanan kepada anak-anak sekitar lokasi.

“Ya kadang beliin gorengan, kadang jajanin apa gitu,” ujarnya.

Eko juga tidak tahu persis siapa wanita bercadar yang ikut diamankan polisi pada penangkapan Rabu kemarin. Dia hanya tahu, Choir baru saja menikah beberapa bulan lalu.

Rencana Buat Serangan

Dalam operasi yang dilakukan Densus 88 Antiteror Polri, Choir ditangkap tak hanya sendiri. Di rumah yang juga menjadi lokasi usaha jahitannya, dia ditangkap bersama satu orang lainnya.

“Untuk yang di tempat pertama ditangkap Choir dan satu lagi Ghofur,” ucap Kapolres Tangerang Kota Kombes Harry Kurniawan saat dimintai konfirmasi, Rabu (16/8/2018).

Tempat pertama yang dimaksud Harry berada di Kunciran Induk, Kota Tangerang. Tim Densus 88 kemudian juga menciduk terduga teroris ketiga di lokasi kedua yang berada di Kunciran Indah, tepatnya di Perumahan Duta Bintaro.

“Di lokasi kedua atas nama Anton,” tutur Harry.

Tak hanya itu, polisi juga mengamankan seorang perempuan bercadar, wanita itu diduga merupakan istri dari Choir. Namun, dia mengatakan, wanita tersebut tidak terlibat dalam kasus terorisme yang dilakukan suaminya.

Menurut Harry, penggerebekan dilakukan pascaintelijen melakukan pemantauan selama empat bulan.

“Mereka sebelum melakukan penyerangan telah lebih dulu mempersiapkan dan mengumpulkan bahan peledak, dan membeli panah,” ucap dia.

Rencana Serang Mako Brimob

Untuk mempersiapkan aksinya, Choir dan dua rekannya juga telah melakukan pelatihan semi militer di sejumlah lokasi di Sukabumi dan Cileungsi, dan Bekasi.

Terkait sasaran yang akan dituju, Harry mengatakan, Choir yang diketahui mempunyai usaha konveksi itu diduga kan melakukan aksi penyerangan ke Markas Komando (Mako) Brimob dan sejumlah pos polisi.

“Mereka merencanakan amaliah di sejumlah pos polisi di wilayah Bogor, Bandung, Jakarta dan Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, dengan sistem hit and run, ujar Harry.

Harry melanjutkan, para terduga teroris itu berencana akan menyerang dengan senjata jenis panah. Di ujung panah tersebut nantinya akan dilengkapi Bom dan Pisau Komando.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *