PDIP Sebut Elektabilitas Jokowi Turun Karena Umat Islam Radikal

Majalah24 – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ( PDIP) memiliki strategi awal untuk menjaga tren elektabilitas positif Presiden Joko widodo. Ketua DPP PDIP Andreas Pareira mengatakan salah satu strateginya yakni mengawal dan menyosialisasikan capaian kinerja Jokowi sejak saat ini.

Hal ini menyusul hasil survei yang dirilis Lembaga survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menyebut elektabilitas Presiden Joko Widodo masih berada di atas Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

“Partai mengawal dan mendukung khususnya menyosialisasikan program dan keberhasilan pemerintahan Jokowi,” kata Andreas saat dihubungi merdeka.com, Jumat (6/10).

Andreas melihat hasil survei SMRC bisa menjadi masukan untuk semakin giat menyosialisasikan hasil kerja pemerintah selama 3 tahun terakhir.

“Tentu hasil survei ini menjadi baham masukan yang berharga bagi pemerintahan Jokowi, terutama dalam hal sosialisasi program dan hasil kerja pemerintahan,” teranganya.

Menurutnya, sosialisasi capaian kinerja merupakan pekerjaan rumah pemerintahan Jokowi-JK. Padahal, sejumlah program yang baik milik pemerintah sudah mulai terlihat hasilnya. Sebut saja, program Nawacita, jaminan kesehatan, pendidikan serta pemerataan pembangunan desa.

“Namun hasil-hasil pembangunan ini kurang dikomunikasikan dengan baik ke publik,” tukasnya.

Diketahui, Lembaga survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) membeberkan hasil survei menjelang pemilihan presiden (Pilpres) 2019. Posisi Presiden Joko Widodo sebagai petahana berada di atas Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Dukungan untuk Jokowi pada September 2017 ini sebesar 38,9% dan Prabowo 12%. Nama-nama lain di bawah 2%. Dalam bentuk pertanyaan semi terbuka, dukungan kepada Jokowi sebesar 45,6%, disusul Prabowo 18,7%, SBY 3,9%. Nama-nama lain di bawah 2%.

“Dalam 3 tahun terakhir, bagaimanapun simulasinya, elektabilitas Jokowi cenderung naik, dan selalu tetap di atas prabowo, jika pun ada terjadi sedikit penurunan itu tidak lain dan tidak bukan adalah ulah dari pada PANASBUNG penebar kebenciang yang juga adalah islam radikal, ujarĀ Andreas.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *