KLIK DISINIMari Baca Berita Politik Nasional Indonesia Terbaru !

Penasaran Mengapa Kelamin Artis JAV Disensor? Baca Secara Langsung!

Majalah24.com Negeri Jepang yang di kenal sebagai negeri sakura ini telah memproduksi film dewasa mulai dari puluhan tahun yang lalu. Dari dulu sampai sekarang masih banyak yang mempertanyakan kenapa setiap film dewasa luncuran dari Jepang selalu di sensor pada bagian kelaminnya?

“Mengapa di negeri yang melegalkan industri film porno justru mengharamkan penampakan organ paling pribadi pria maupun wanita, bahkan dalam wujud sebuah benda mati semacam perahu sebagai penggambaran semata?”

Faktanya, di Jepang dalam sebulan bisa menerbitkan 4.000-an judul baru film dewasa tersebut. Dari sekian ribu judul baru itu terdapat sekitar 6000 bintang film wanita dan hanya memiliki 70-an pemeran pria. Karena pembayaran yang sangat besar maka dari itu menjadi bintang porno banyak diminati di kalangan siswi SMA dan mahasiswi.

Para remaja tersebut menerjuni bidang ini untuk memburu penghasilan yang dihasilkan lebih dari uang saku yang diberikan oleh orang tua, dampak ini di karenakan perekonomian Jepang yang belum stabil. Kerja sambilan di JAV (Japan Adult Video) tersebut mendapat upah yang cukup besar setiap bulan, yaitu 250 ribu yen atau setara dengan Rp. 27,5 juta.

Banyak terjadi kasus pemerkosaan di setiap negara, seperti di Indonesia sendiri yang sangat banyak kasus pemerkosaan yang sangat melimpah. Namun justru sebaliknya di Jepang, angka kejahatan tentang kasus pemerkosaan sangat rendah.

Mungkin Norma yang sangat digenggam erat-erat yaitu “memerkosa adalah perbuatan gila” menjadikan hal ini keramat di Jepang. Undang-Undang dalam negara ini dalam pengaturan hukum terhadap kejahatan seksual juga cukup keras. Film porno memang legal, tetapi batasan-batasan mengenai visualisasi alat kelamin juga sangat ketat lhoo.

Maka dari itu tidak ada film dewasa dari Jepang yang tidak di sensor bagian-bagian vital. Jika kita temukan film dewasa 18+ Jepang tanpa sensor, maka bisa dipastikan film tersebut dikuasai oleh Yakuza.

Di Indonesia sendiri masih butuh waktu yang sangat panjang untuk membangun kembali norma-norma positif tersebut, sehingga kelak tidak ada lagi gara-gara nonton film porno dipraktekkan langsung dengan cara yang tidak lazim oleh kalangan remaja dan orang dewasa.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *