KLIK DISINIMari Baca Berita Politik Nasional Indonesia Terbaru !

Seputar Vaginoplasty, Pengencangan Vagina dari Prosedur sampai Komplikasi

Majalah24.com – Alasan itulah yang disampaikan Dokter Spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik, Qori Haly. Tak heran, operasi pengencangan vagina menjadi dambaan bagi sebagian wanita demi mendapatkan kembali organ intim yang kencang.

Prosedur ini pun seperti yang baru saja dilakukan aktris Nikita Mirzani. Upaya Nikita ini berhasil dilakukan setelah ia dua kali melahirkan. Lantas bagaimana prosedur vaginoplasty lebih rinci?
Qori menjelaskan, vaginoplasty adalah prosedur operasi yang mengubah atau memperbaiki vagina, baik bentuk maupun fungsinya.

Sebelum menjalani operasi, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan, terutama indikasi yang jelas untuk tindakan. Indikasi ini berupa penyebab yang pasti kenapa diperlukan tindakan operasi.

Ada penyebab kelainan vagina yang bisa jadi kelainan bawaan (kongenital), proses penuaan (aging), seperti turunnya kandungan, kantong kemih atau usus besar, anus, penyakit keganasan dan infeksi, trauma, dan perlukaan jalan lahir, dan proses transgender.

Seluruh kondisi di atas menjadi penyebab tindakan dilakukannya vaginoplasty. Pertimbangan selanjutnya adalah kondisi umum pasien, baik umur, riwayat penyakit sebelumnya, dan kondisi pemberat operasi (hipertensi, diabetes melitus).

Seluruh pertimbangan operasi pengencangan vagina tersebut dievaluasi oleh dokter Bedah Plastik atau Dokter Kandungan sehingga mendapatkan hasil pemeriksaan yang lengkap. Rencana tindakan, evaluasi, dan kemungkinan tindakan tambahan bila diperlukan bisa lebih jelas terlihat.

Bentuk vagina jadi lebih baik

Setelah pasien menjalani vaginoplasty, ada beberapa manfaat yang diperoleh. Manfaat yang diperoleh pasien tergantung dari kondisi kelainannya.

“Dari pasien yang tidak terbentuk vagina dibuat menjadi ada, turunnya organ-organ panggul wanita ke dalam vagina bisa dikembalikan ke posisi normal,” Qori melanjutkan.

Selain itu, adanya rekonstruksi vagina bila ada kerusakan bisa kembali mendekati normal dan membentuk vagina menjadi lebih baik.

Risiko saat operasi

Saat tindakan operasi berlangsung, pasien juga dihadapkan dengan risiko pembiusan dan pembedahan.

Risiko yang terjadi kemungkinan pasien mengalami infeksi, perdarahan, dan beberapa kondisi yang memerlukan tindakan operasi lanjutan dapat terjadi.

“Ya, semua risiko dapat dicegah atau dikurangi dengan persiapan yang baik. Kami punya fasilitas medis yang memadai dan kompetensi (kemampuan) dokter yang mumpuni,” tambah Qori, yang tergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia (IDI) DKI Jakarta Cabang Jakarta Pusat.

Komplikasi jangka panjang

Prosedur vaginoplasty memang bermanfaat bagi pasien untuk mendapatkan kembali kekencangan vagina. Namun, pasien juga patut memerhatikan komplikasi yang terjadi.

“Komplikasi jangka panjang bisa berupa nyeri, kerusakan jaringan sekitar vagina, saluran vagina menyempit (striktur), dan timbul saluran tambahan, baik dari saluran kemih maupun saluran tinja (fistula) menuju vagina. Kondisi ini memerlukan operasi lanjutan,” tambah Qori.

Bisa juga terjadi kerusakan sekitar vagina, yakni nekrosis (kematian sel pada jaringan tubuh) dan kontraktur (pemendekan permanen dari kulit dan atau jaringan dibawahnya yang menyebabkan deformitas dan keterbatasan gerak).

Masa pulih pasien

Masa pulih pasien setelah prosedur vaginoplasty tidak sama. Hal itu tergantung dari usia pasien.
“Semakin lanjut usia ya semakin lama proses penyembuhan. Apalagi kalau pasien punya kondisi pemberat, seperti diabetes melitus, kelainan pembuluh darah, hipertensi, dan lainnya,” Qori memaparkan.

Untuk itu, pasien dianjurkan istirahat total sampai perdarahan berhenti selama 2-3 hari. Pasien bisa beraktivitas seperti biasa setelah satu minggu setelah operasi.
“Harus mengurangi posisi jongkok dan mengedan juga selama pemulihan. Terkait berhubungan badan dianjurkan boleh dilakukan setelah vagina cukup pulih setelah 2-3 bulan. Tentunya, anjuran ini sesuai evaluasi dokter yang melakukan operasi,” tutup Qori.

Anjuran dari dokter yang dipatuhi pasien pun dapat mengurangi risiko komplikasi jangka panjang. Dengan begini, komplikasi dapat ditangani dengan baik.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *